Search This Blog

Best Practice Pembelajaran Fisika Kurikulum Merdeka

 


IMPLEMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) dan PROJECT BASED LEARNING (PJBL) DENGAN PENDEKATAN TPACK UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK DI SMA NEGERI 1 DUKUN


NUR CHOLIS

SMA NEGERI 1 DUKUN

nurcholis50864@gmail.com


SITUASI

Selama sekitar dua tahun lamanya pandemi COVID-19 melanda Indonesia bahkan dunia. Hal tersebut sangat berdampak terutama dalam dunia pendidikan. Cara belajar yang berubah dan kondisi peserta didik yang beragam mengakibatkan munculnya berbagai masalah, tidak terkecuali pada kondisi peserta didik yang ada di SMAN 1 Dukun.

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, baik melalui kajian literatur maupun wawancara dengan berbagai pihak, diperoleh gambaran tentang masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu 1) motivasi belajar yang masih rendah; 2) keterbatasan dalam melakukan praktikum di laboratorium; dan 3) kegiatan pebelajaran yang masih monoton. 

Motivasi belajar peserta didik yang masih rendah disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh diantaranya adalah kejenuhan dalam belajar, minat belajar yang masih rendah, kondisi kesehatan peserta didik yang terganggu, dan kemampuan peserta didik yang masih rendah. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh diantaranya adalah keadaan keluarga yang kurang mendukung, lingkungan belajar yang kurang kondusif, sarana dan prasarana yang terbatas, serta cara mengajar guru yang kurang menarik.

Keterbatasan dalam melakukan praktikum di laboratorium disebabkan oleh beberap faktor, diantaranya adalah laboratorium yang terpaksa beralih fungsi sebagai kelas. Hal ini dikarenakan terbatasnya jumlah ruangan kelas sedangkan jumlah peserta didik terus bertambah. Tidak adanya laboran juga menjadi kendala dalam melakukan kegiatan praktikum. Hal tersebut membuat tugas guru lebih berat ketika harus mempersiapkan kegiatan praktikum. Alat dan bahan praktikum yang kurang lengkap juga menjadi kendala, sehingga kegiatan praktikum yang dilakukan menjadi kurang maksimal.

Kegiatan pembelajaran yang masih monoton merupakan masalah yang klasik yang dihadapi oleh banyak sekolah. Hal tersebut disebabkan oleh kemauan guru untuk mencoba menggunakan pembelajaran inovatif masih belum maksimal. Penguasaan terknologi dalam pembelajaran juga masih belum maksimal, hal tersebut terbukti dengan masih minimnya pembelajaran yang mengintegrasikan IT. Perencanaan pembelajaran yang lebih kompleks dan membutuhkan waktu yang lebih lama juga merupakan faktor kurang bervariasinya pembelajaran yang dilakukan. Hal tersebut juga dikarenakan guru mendapatkan tugas administratif yang terlalu banyak, sehingga sumber daya yang harusnya difokuskan pada persiapan dan perencanaan pembelajaran juga belum maksimal.

 Dari latar belakang tersebut, guru mempunyai peran dan tanggung jawab untuk mendesain, mempersiapkan, menerapkan pembelajaran inovatif menggunakan model pembelajaran PBL dan PjBL, melakukan evaluasi dan refleksi pembelajaran. Sehingga tujuan yang diinginkan yaitu untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dapat terwujud. Dengan motivasi belajar yang semakin meningkat, diharapkan muaranya adalah hasil belajar juga akan meningkat.

Praktik pembelajaran ini sangat penting untuk dibagikan karena ada guru fisika lain yang mengalami permasalahan yang sama dengan yang saya alami, sehingga selain bisa memotivasi diri sendiri juga diharapkan dapat menjadi inspirasi maupun referensi bagi guru yang lain.  


TANTANGAN

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka tantangan yang dihadapi guru dalam mengatasi permasalah tersebut adalah 1) guru harus mampu mendesain dan menerapkan model pembelajaran inovatif yang menyenangkan agar motivasi belajar peserta didik dapat meningkat; 2) guru harus mampu mendesain dan menerapkan pembelajaran yang dapat mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana praktikum di laboratorium, sehingga meskipun sarana dan prasarana terbatas tetapi proses pembelajaran tetap harus berkualitas; 3) guru harus mampu mendesain dan menerapkan pembelajaran inovatif yang bervariasi, sehingga dengan adanya variasi proses pembelajaran dapat menarik bagi peserta didik sehingga minat untuk belajar semakin meningkat.

Dari tantangan tersebut juga harus dilengkapi dengan pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan teknologi pembelajaran yang terus berkembang serta kesadaran peserta didik dalam berteknologi dalam proses pembelajaran juga perlu ditingkatkan.

AKSI

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan tersebut adalah 1) memilih materi yang sesuai dengan model pembelajaran PBL dan PjBL; 2) menentukan materi yang sesuai dengan perkiraan jadwal pelaksanaan aksi; 3) membuat modul ajar dengan model pembelajaran PBL dan PjBL; 4) mendiskusikan modul ajar yang telah dibuat dengan teman sejawat; 5) menyiapkan alat dan bahan praktikum, media pembelajaran dan berkoordinasi dengan tim IT; dan 6) melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun.

Proses pelaksanaan rencana aksi dimulai dengan melaksanakan 2 set pembelajaran (tiap set pembelajaran terdiri atas pertemuan 1 model PBL dan pertemuan 2 model PjBL) yang dilakukan di kelas XI satu. Rencana aksi 1 dilakukan pada materi titik berat. Untuk pertemuan 1 dilakukan dengan menggunakan video apersepsi dari youtube tentang posisi titik berat pada kendaraan yang berbeda dan efek yang diakibatkannya. LKPD yang digunakan terkait percobaan menentukan titik berat benda homogen. Untuk pertemuan 2 dilakukan dengan menggunakan video apersepsi dari youtube tentang lomba layang-layang dalam rangka HUT kemerdekaan Indonesia. LKPD yang digunakan terkait proyek membuat layang-layang hias.  

Rencana aksi 2 dilakukan pada materi momentum dan impuls. Untuk pertemuan 1 dilakukan dengan menggunakan video apersepsi dari youtube tentang permainan billiard. LKPD yang digunakan terkait percobaan menentukan koefisien restitusi. Untuk pertemuan 2 dilakukan dengan menggunakan video apersepsi dari youtube tentang peluncuran roket. LKPD yang digunakan terkait proyek membuat roket air.

Dari kedua rencana aksi tersebut, semua pelengkap pembelajaran seperti LKPD, bahan ajar, video pembelajaran, dan rencana evaluasi yang menggunakan google form sudah disediakan semuanya di google classroom. Hal tersebut bertujuan untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran yang dilakukan.

Adapun pihak yang terlibat dalam pelaksanaan rencana aksi ini yaitu guru, peserta didik kelas XI satu, tim IT dan teman sejawat dengan peran serta tanggung jawabnya masing-masing.


REFLEKSI HASIL dan DAMPAK

Dampak dari penerapan rencana aksi ini adalah secara umum dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Penerapan rencana aksi tersebut secara umum efektif dalam menyelesaikan masalah yang ada di sekolah yaitu meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin meningkatnya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Respon guru lain terhadap penerapan pembelajaran inovatif yang saya lakukan adalah dengan memberikan semangat dan dukungan untuk terus melakukan inovasi dalam pembelajaran serta mengajak diskusi berbagi pengalaman mengenai pembelajaran yang saya  terapkan. Respon peserta didik terhadap pembelajaran adalah senang dan bisa menikmati proses KBM dengan baik. Pimpinan sekolah memberi respon positif terhadap kegiatan inovasi pembelajaran yang dilakukan. 

Faktor keberhasilan guru dalam menyelesaikan permasalahan di sekolah adalah mampu mendesain pembelajaran inovatif dengan model PBL dan PjBL dengan menghadirkan masalah yang kontekstual serta proyek penerapannya yang menyenangkan bagi peserta didik. Hal ini membuat peserta didik merasa tertantang, tertarik sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Keberhasilan dalam proses pembelajaran ini juga sangat dipengaruhi oleh penggunaan media, model pembelajaran, serta sarana prasarana penunjang pembelajaran seperti LCD dan jaringan internet.

Pembelajaran yang diperoleh dari penerapan rencana aksi ini adalah munculnya kesadaran guru dalam menghadapi pergeseran paradigma belajar, gaya belajar dan karakteristik peserta didik dengan cara terus melakukan upgrade kemampuan diri dan melakukan inovasi pembelajaran agar menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, menantang, inovatif, menarik dan mampu meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar fisika.

Sehingga dari keseluruhan proses yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran fisika dengan model PBL dan PjBL dengan pendekatan TPACK dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.







Share:

No comments:

Post a Comment